PRASANGKA, DISKRIMINASI,DAN ETNOSENTRISME
Tema Eye Cathing (Perbedaan Prasangka dan Etnosentrisme)
Diskriminasi
Diskriminasi dapat diartikan sebagai sebuah perlakuan terhadap individu secara berbeda dengan didasarkan pada gender,ras, agama,umur, atau karakteritik yang lain.
Dari definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa inti dari diskriminasi adalah perlakuan berbeda. Sedangkan pengertian diskriminasi terhadap penyandang cacat atau difabel lebih didasarkan pada kondisi fisik atau kecacatan yang disandangnya. Masyarakat selama ini memperlakukan para difabel secara berbeda lebih didasarkan pada asumsi atau prasangka bahwa dengan kondisi difabel yang kita miliki, kita dianggap tidak mampu melakukan aktifitas sebagaimana orang lain pada umumnya. Perlakuan diskriminasi semacam ini dapat dilihat secara jelas dalam bidang lapangan pekerjaan. Para penyedia lapangan pekerjaan kebanyakan enggan untuk menerima seorang penyandang cacat sebagai karyawan. Mereka berasumsi bahwa seorang penyandang cacat tidak akan mampu melakukan pekerjaan seefektif seperti karyawan lain yang bukan difabel. Sehingga bagi para penyedia lapangan kerja, mempekerjakan para difabel sama artinya dengan mendorong perusahaan dalam jurang kebangkrutan karena harus menyediakan beberapa alat bantu bagi kemudahan para difabel dalam melakukan aktifitasnya.
Etnosentrisme
Sikap etnosentrisme adalah sikap yang menggunakan pandangan dan cara hidup dari sudut pandangnya sebagai tolok ukur untuk menilai kelompok lain.
Salah satu contoh yaitu saya mengambil contoh dengan etnosentrisme di Indonesia adalah perilaku carok dalam masyarakat Madura. Menurut Latief Wiyata, carok adalah tindakan atau upaya pembunuhan yang dilakukan oleh seorang laki-laki apabila harga dirinya merasa terusik. Secara sepintas, konsep carok dianggap sebagai perilaku yang brutal dan tidak masuk akal. Hal itu terjadi apabila konsep carok dinilai dengan pandangan kebudayaan kelompok masyarakat lain yang beranggapan bahwa menyelesaikan masalah dengan menggunakan kekerasan dianggap tidak masuk akal dan tidak manusiawi. Namun, bagi masyarakat Madura, harga diri merupakan konsep yang sakral dan harus selalu dijunjung tinggi dalam masyarakat. Oleh karena itu, terjadi perbedaan penafsiran mengenai masalah carok antara masyarakat Madura dan kelompok masyarakat lainnya karena tidak adanya pemahaman atas konteks sosial budaya terjadinya perilaku carok tersebut dalam masyarakat Madura.
Contoh etnosentrisme dalam menilai secara negatif konteks sosial budaya terjadinya perilaku carok dalam masyarakat Madura tersebut telah banyak ditentang oleh para ahli ilmu sosial.
Contoh yang lain adalah kebiasaan memakai koteka bagi masyarakat papua pedalaman. Jika dipandang dari sudut masyarakat yang bukan warga papua pedalaman, memakai koteka mungkin adalah hal yang sangat memalukan. Tapi oleh warga pedalaman papua, memakai koteka dianggap sebagai suatu kewajaran, bahkan dianggap sebagai suatu kebanggan.
Etnosentrisme terjadi jika masing-masing budaya bersikukuh dengan identitasnya, menolak bercampur dengan kebudayaan lain. Secara kurang formal etnosentrisme adalah kebiasaan setiap kelompok untuk menganggap kebudayaan kelompoknya sebagai kebudayaan yang paling baik.
Sebagian besar, meskipun tidak semuanya, kelompok dalam suatu masyarakat bersifat etnosentrisme. Semua kelompok merangsang pertumbuhan etnosentrisme, tetapi tidak semua anggota kelompok sama etnosentris. Sebagian dari kita adalah sangat etnosentris untuk mengimbangi kekurangan-kekurangan kita sendiri. Kadang-kadang dipercaya bahwa ilmu sosial telah membentuk kaitan erat antara pola kepribadian dan etnosentrisme.
Perbedaan
Setiap orang berhak untuk memiliki pendapat/opini/argumentasi sendiri. Terkadang Anda harus berbeda pendapat dengan orang-orang di sekitar Anda dalam memandang suatu masalah. Hal itu sangatlah wajar.
Berikut ini adalah Tips mengatasi perbedaan pendapat/opini/argumentasi dengan orang -orang di sekitar Anda:
- Jika Anda berpikir terlebih dahulu selama beberapa menit sebelum Anda benar-benar mengatakan sesuatu, hal ini akan banyak membantu baik orang lain maupun Anda, untuk memulai penyelesaian perbedaan pendapat. Bereaksi (langsung) terhadap kata-kata atau perbuatan adalah kesalahan pertama yang dibuat dalam suatu pemecahan masalah. Karena pada saat itu, emosi Anda sedikit banyak mungkin ikut ‘bermain’.
- Ulangi/perjelas perkataan atau perbuatan yang baru saja Anda saksikan. Semacam klarifikasi mengenai apa yang Anda pikir, dengar dan lihat. Agar tidak terjadi perbedaan persepsi dan pemahaman (misunderstanding) mengenai suatu pendapat. Katakanlah itu, karena Anda ingin untuk lebih memahami situasi yang dihadapi.
- Rendahkan nada dan volume suara Anda. Menempatkan penekanan kata-kata pada masalah yang benar-benar ingin Anda dengar penjelasannya dengan lebih lengkap.
- By Process, kemampuan Anda ini akan berkembang, sejalan dengan kematangan Anda dalam memandang suatu masalah. Jam terbang memegang andil penting dalam situasi ini.
- Jika mungkin, berempatilah dengan individu lain, sehingga akan menjadi lebih jelas dan memahami lebih dalam, seolah-olah itu adalah Anda di posisi mereka. Tidak semua orang mampu melakukan hal ini sampai Anda mau mencobanya.
- Bertanyalah pada orang lain untuk mendengar apa tangapan mereka atas pendapat Anda, sehingga mereka akan dapat menjalankan empati juga.
- Jika suasana diskusi mulai bergerak ‘memanas’, biarkan dingin dulu sebelum Anda lanjutkan untuk mencari penyelesaian beda pendapat/opini/argumentasi lebih jauh.
- Dengarkan saja opini rekan Anda, tanpa menyatakan opini Anda yang mungkin akan memicu konflik lebih jauh.
- Peduli kepada lawan bicara Anda, lengkap dengan perbedaan pandangannya.Mereka adalah entitas yang terpisah, bukan tiruan dari pribadi Anda. Jadi, hindari bersikap menghakimi, mengevaluasi atau memaksakan pemikiran Anda kepada mereka.
- Cobalah untuk mengamati bahasa tubuh lawan bicara Anda sebagai tips yang tidak hanya membantu Anda dalam membaca situasi, tetapi juga meredakan ketegangan.
- Gerakan tangan, nada bicara dan tatapan mata adalah beberapa tanda yang bisa Anda ‘baca’ sebagai bahasa tubuh dari lawan bicara Anda.
Sumber : wikipedia , google, Buku 19 Pedoman mengenai masalah pendapat